Berita Opini pilihan

Bima Sakti Dicopot, Sepak Bola Indonesia Tumbuh di Tanah yang Tandus

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Malukah PSSI untuk mengakui bahwa dirinya sedang bingung? Terlalu gengsi untuk mengakui bahwa sedang panik? Atau terlalu pintar untuk mengakui tidak mampu mengatasi sepak bola Indonesia?

Semua pertanyaan itu tercermin dari tiap langkah dan hembusan nafas sepak bola Indonesia. Paling terakhir, pencopotan Bima Sakti dari kursi kepelatihan timnas U-19 adalah sebuah langkah yang aneh. Seharusnya, PSSI sama sekali tidak harus menunjuk Bima sedari awal. PSSI sudah kehilangan keseimbangan dalam membuat keputusan sehingga hanya simalakama yang terjadi.

Memilih Bima Sakti salah, mencopot Bima Sakti juga terasa salah. Andai kini jabatan itu diberikan lagi kepada Indra Sjafri, dan pada akhirnya Indra Sjafri gagal, maka publik akan kembali menyalahkan keputusan PSSI memilih Bima Sakti waktu itu untuk menggantikan Indra Sjafri.

Namun, pasti ada suara yang muncul juga bahwa seharusnya Bima diberikan kepercayaan karena waktunya sudah manjing. Sehingga pergantian kursi kepelatihan tetap dianggap sebagai langkah yang kurang tepat.

Beberapa hari lalu, tim dioper sempat bertanya kepada seorang guru Bangsa Emha Ainun Nadjib dalam sebuah acara bersama salah satu suporter di Sleman, Yogyakarta. Sepak bola Indonesia menurut Cak Nun adalah seperti tanaman yang hidup di tanah yang tandus, hanya orang-orang jenius dan kuat yang bisa tumbuh subur.

Jika merujuk kepada pendapat Cak Nun tersebut, maka benar saja langkah yang di putuskan PSSI perihal masalah timnas U-19 adalah salah satu contoh bahwa bagaimanapun caranya, sepak bola atau timnas Indonesia tidak akan pernah menjadi maju jika PSSI sebagai wadah tidak pernah menyiapkan dirinya menjadi tempat yang tepat bagi berkembangnya sepak bola Indonesia. Meski jika dijabarkan lebih lanjut, bukan PSSI saja yang bertanggung jawab atas tandusnya tempat tumbuh sepak bola Nusantara ini.

Kini yang tersisa hanyalah harapan dan doa bahwa timnas U-19 di isi oleh anak-anak muda yang Jenius yang tetap bisa tumbuh subur di tanah yang sangat tandus itu.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •