Grassroot Opini pilihan Spesial

Ada Baiknya Indra Sjafri Kembali

Yel-yel atau teriakan setelah pertandingan usai antara Indonesia U-19 melawan Jepang U-19 sungguh tanpa alasan. Betapa tidak, Timnas U-19 begitu kental dengan aroma Indra Sjafri. Namun yang terlihat hanyalah kekacauan yang terjadi saat terjadinya proses transisi antar pelatih. Bukan berarti pelatih timnas U-19 Bima Sakti jelek, namun jelas ada yang tidak beres dalam semua yang terjadi.

Kebetulan lawan yang dijajal adalah Jepang, jadi saya lebih mudah untuk menulis. Pasalnya saya menilai bahwa banyak kemiripan antara gagasan Indra Sjafri dengan sepak bola Jepang.

Jepang adalah anak kemarin sore dalam dunia sepak bola, jauh sebelum Ramang terlahir dan menggoyang Indonesia. Namun Jepang begitu cepat dalam membangun sepak bola. Jepang sadar betul bahwa sepak bola terlanjur besar di Eropa dan Amerika Latin, sehingga mereka tidak akan pernah benar-benar besar jika mereka terus melihat Eropa dan Amerika Latin sebagai kiblat mereka.

Mungkin sebagai transfer ilmu Jepang bisa lebih terbuka, namun Jepang membangun gagasan sendiri soal sepak bola. Mereka akan selalu kalah bersaing jika mereka memaksakan Eropa atau Amerika Latin ke dalam identitas sepak bola mereka. Jepang membangun sepak bola dengan identitas mereka sendiri. Mereka punya ide sendiri soal sepak bola, meski Amerika Latin jauh lebih menjadi teman dekat sepak bola Jepang.

Mereka mampu menjadikan kelemahan tinggi badan menjadi senjata yang menakutkan. Jepang lebih memilih membangun sepak bola dari etos kerja, disiplin dan kekuatan. Jepang juga benar-benar mengerti apa itu setia dengan proses, membangun sepak bola yang benar dengan melakukan pembinaan usia dini yang tertata rapi.

Baca : Sepak Bola Diciptakan Bukan Untuk Indonesia

Baca : Andai Indonesia Tidak Mengundurkan Diri Pada Kualifikasi Piala Dunia 1958

Bagaimana dengan Indonesia? Hampir semua sepakat bahwa Indonesia mempunyai potensi yang luar biasa soal sepak bola. Namun bangsa ini terlalu malu untuk menikmati proses. Segala hal yang berbau instan dan tergesa-gesa selalu dilakukan untuk membuat sepakbolanya maju. Mengirim tim ke Italia, mengirim ke Belanda, ke Uruguay, mengimpor pemain, mengimpor pelatih dan masih banyak lagi.

Lantas bagaimana soal Indra? Sejauh penilaian saya, Indra membangun sepak bola Indonesia dengan gagasan yang jelas. Memegang prinsip pertumbuhan layaknya tumbuhnya pohon, begitu setia dengan proses, dan yang paling penting dirinya ingin menciptakan ciri khas, identitas, entitas yang hanya dimiliki Indonesia.

Sampai kapanpun, sepak bola Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi sepak bola seperti yang setiap hari kita tonton di Eropa. Indonesia juga tidak akan pernah mampu bersaing dengan negara sepak bola maju jika masih menjadikan Eropa atau Amerika Latin sebagai kiblat.

Untuk alasan mendasar ini, sebaiknya Indra Sjafri memang harus kembali atau paling tidak Indonesia tidak malu untuk meminta petuahnya. Seseorang yang mau melakukan apa saja untuk Bangsanya, sebuah Bangsa yang besar yang sedang kehilangan rasa percaya diri. Bangsa yang mulai lupa dengan identitas dan personalitas, sedang lupa soal martabat dan harga diri.

 

Baca Juga:

10 Pesepakbola Muslim Termahal