Berita Grassroot pilihan Spesial

Andi Ramang : Pemain Sepak Bola Tidak Lebih Berharga Dari Kuda Pacuan

“Kuda pacuan dipelihara sebelum dan sesudah bertanding, menang atau kalah. Tapi pemain bola hanya dipelihara kalau ada panggilan. Sesudah itu tak ada apa-apa lagi,” (Andi Ramang)

Andi Ramang adalah salah satu legenda sepak bola Indonesia yang pada masanya pernah membuat timnas Indonesia menjadi kesebelasan yang ditakuti di Asia.

Pemain yang dijuluki sebagai “Dewa Salto” ini pernah nyaris membawa tim Garuda lolos ke putaran final piala dunia 1958 di Swedia. Pria kelahiran Barru, Sulawesi Selatan , 24 Aplril 1942 ini memang memiliki skill bermain yang out of the box.

Ramang dikisahkan mampu berlari bak kuda kesetanan sambil menggiring bola. Bahkan pada saat itu Ia selalu menjadi pemain favorit penonton yang ada di stadion. Bahkan pendukung tim yang menjadi lawan Indonesia kala itu juga ikut mem-faforitkan Ramang, lantaran aksi-aksi akrobatiknya di lapangan. Salah satu aksi andalan ramang adalah mencetak gol dengan tendangan salto. Hal ini lah yang kemudian menjadi penyebab Ramang dijuluki sebagai Dewa Salto pada era 50-an.

Baca Juga : Andai Indonesia Tidak Mengundurkan Diri Pada Kualifikasi Piala Dunia 1958

Tak hanya lewat tendangan salto, Ramang dikenal hobi mencetak gol dari sudut yang sangat sempit dan diluar nalar, kala itu. Salah satunya adalah dengan menendang bola ketika Ia sedang berada sejajar dengan tiang gawang, dan membuat tendangan yang menyerupai umpan lambung, namun ternyata bola itu diarahkan ke sisi tiang jauh gawang dan akhirnya berbuah gol.

Aksi akrobatik Ramang tersebut membuatnya menjadi buah bibir dunia sepak bola Internasional. Salah satunya adalah Uni Soviet yang kala itu dibela penjaga gawang terbaik sepanjang masa Lev Yashin. Sayangnya pertandingan Indonesia kontra Uni Soviet kala itu hanya berhasi imbang 0-0. Ramang kala itu berkata “Saya hampir saja mencetak gol, tinggal sejengkal lagi saya bobol kiper kahyangan itu, sialnya baju saya ditarik dari belakang.”

Akan tetapi kisah kehebatan Ramang di lapangan hijau tidak berbanding lurus dengan kehidupannya setelah pensiun sebagai pemain. Ia dikabarkan hidup dengan kondisi seadanya bersama keluarganya. Sebenarnya Ramang sempat bekerja menjadi pelatih di Palu dan Ujung Pandang, sayangnya karirnya sebagai pelatih tak bertahan lama lantaran ada segelintir orang yang menyingkirkannya. Aalasannnya adalah karena Ramang tidak memiliki sertifikat kepelatihan resmi dan status akademiknya yang hanya tamatan Sekolah Rakyat (sekarang setara SD). Sebelum meninggal karena kangker paru-paru pada 1987, Ramang pernah berkata bahwa pemain bola tidak lebih dari kuda pacuan. “Kuda pacuan dipelihara sebelum dan sesudah bertanding, menang atau kalah. Tapi pemain bola hanya dipelihara kalau ada panggilan. Sesudah itu tak ada apa-apa lagi.” Ujar Ramang sang Dewa Salto.

Baca Juga:

10 Pesepakbola Muslim Termahal