Opini

Benarkah Bola itu Bundar Bagi Benevento?

by Pandanbara

dioper.com -Benarkah Bola itu Bundar Bagi Benevento?- Konsistensi tidak selalu menyangkut hal-hal  yang dianggap baik, sebut saja; kemenangan beruntun. Akan tetapi sebuah konsistinesi bisa juga berupa sebaliknya yaitu kekalahan beruntun, dalam hal ini Benevento adalah rajanya. Betapa tidak, sejak promosi ke Serie A musim ini, tim yang dijuluki stregoni atau sang penyihir ini selalu konsisten untuk kalah. Alhasil sang penyihir sejauh ini berhasil menjadi penguasa juru kunci klasemen Serie A. Akan tetapi, bagaimana jika Tuhan membikin sebuah anomali dalam sejarah sepak bola Italia dengan menjadikan Benevento sebagai jawara di tanah Italia musim ini?

Jika mengacu pada pepatah purba di dunia sepak bola yang mengatakan bahwa “bola itu bundar” (anda pasti sudah tau apa maknanya), seharusnya hal tersebut sangat mungkin terjadi. Lagipula sejauh ini laga di  Serie A baru bergulir sebanyak 14 laga, artinya masih ada 24 laga tersisa bagi seluruh tim di Serie A untuk saling beradu nasib. Secara matematis Benevento masih memiliki kans untuk memindahkan kekuasaanya menuju posisi  puncak klasemen. Meski jika mengacu pada aturan FIFA yang berlaku sejak tahun 1996 tentang perolah poin, tentu masih terdapat beberapa variabel yang juga harus diperhitungkan.

Misalnya jika Napoli, Inter, Juventus , Roma, dan Lazio serta 14 tim lainnya mengalami berbagai macam gejolak yang tidak menguntungkan di semua 24 laga tersisa. Minimal penghuni 5 besar klasemen saat ini menuai hasil imbang di semua laga, meskipun variabel ini jelas sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi dan terlalu naif.

Variabel lainnya adalah jika 19 tim yang saat ini berlaga di serie A terjerat skandal yang mengharuskan mereka dijatuhi hukuman diskualifikasi, dan gelar scudeto secara otomatis akan diberikan kepada Benevento. Sama halnya yang dialami Inter yang pada gelaran Serie A edisi 2005/2006. Pada saat itu sebenarnya I Nerazzuri mengakhiri musim di posisi ke-3 kelasemen, akan tetapi dinobatkan sebagai jawara Serie A setelah Juventus (pemuncak kelasemen) dan AC Milan (runner-up) terjerat skandal “Calciopoli” dan diberlakukan pengurangan poin besar-besaran terhadap kedua tim tersebut yang berdampak pada anjloknya posisi mereka di kelasemen. Akan tetapi variabel ini juga besar kemungkinan untuk menjadi mustahil, dan keterlaluan jika dilibatkan sebagai variabel.

Meski begitu, sebenarnya terdapat variabel yang orang Inggris akan menyebutnya “This is makes sense”. Yaitu, apabila Tuhan mengabulkan doa salah satu supporter Benevento yang kebetulan sangat baik budinya, sampai-sampai Tuhan sendiri merasa tidak mungkin untuk tidak mengabulkannya, yaitu; jadikan Benevento peraih scudeto musim ini, amin!. Lagipula, suporter mana yang tidak mendoakan dan mengharapkan tim kesayangnnya menjadi jawara liga?. Tidak bisa tidak, Benevento jelas membutuhkan bantuan dari Tuhan. Meski jelas akan menjadi anomali terbesar di abad ini untuk dunia sepak bola.

Yang jelas, Benevento musti memenangkan 24 laga yang tersisa di Serie A musim ini dan bersifat mutlak, tidak bisa tidak. Itupun harus melibatkan variabel-variabel yang jelas sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Mungkin akan terjadi semacam geger nasional di negeri Pizza jika Benevento berhasil meraih scudeto musim ini. Akan tetapi, hal ini mungkin akan menjadi drama yang sanggup melipur lara rakyat Italia –yang menyukai sepak bola- ditengah kecamuk luka atas gagalnya timnas Italia hadir di piala dunia Rusia tahun depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *