Berita pilihan Spesial

Cristian Chivu, Tulang Tengkoraknya Dia Persembahkan untuk Inter

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Cristian Chivu seorang pemuda yang diberikan kepercayaan sebagai kapten Ajax Asmterdam medio 2000-an. Seoarang pemuda yang mampu memimpin beberapa pemain muda lainnya yang kelak akan menjadi bintang di Eropa. Rafael van der Vaart , Wesley Sneijder , Johnny Heitinga , Zlatan Ibrahimovic, dan Maxwell adalah deretan nama besar yang ia pimpin kala itu.

Takdir juga mempertemukan mereka di satu tim yang pada masanya menguasai Eropa. Tampil sebagai anak muda yang mempesona dengan kaki kirinya, AS Roma memboyongnya dari Ajax di tahun 2003. Gelar Coppa Italia adalah piala yang ia persembahkan kepada serigala Ibu kota sebelum dia memutuskan berlabuh di tim yang akan membuat karirnya menjadi sempurna, tim itu adalah Inter Milan.

Inter Milan mampu memenangkan perburuan pemain Rumania itu dari duo raksasa Spanyol, Real Madrid dan Barcelona. Musim panas 2007 adalah lembaran baru bagi Chivu dimana dia akan menuliskan tinta emas dalam karirnya bersama Inter.

Musim pertamanya di Inter langsung berbuah manis, dimana dia bisa meraih Scudetto, gelar yang tidak dia cicipi bersama AS Roma. Bersama Chivu Inter berhasil membangun skuad yang begitu kokoh di lini belakang. Ivan Cordoba, Marco Matterazzi, Maxwell, Walter Samuel, Lucio, dan Javie Zanetti adalah barisan lini belakang yang membuat Inter bisa menguasai dunia pada masanya.

Chivu sempat menjalani operasi selama 2 jam setelah mengalami patah tulang tengkorak. Kala itu dirinya digotong keluar lapangan setelah bertabrakan dengan striker Chievo, Sergio Pellissier . Oleh karena itu pelindung kepala adalah identitas bagi dirinya saat bermain kembali.

Tanggal 22 Mei 2010 boleh saja dianggap menjadi hari yang spesial baginya, saat dirinya menghiasi starting line-up pada partai final Liga Champion melawan Bayern munich.

Selama 115 kali penampilan bersama Inter, Chivu berhasil menyumbang 3 gol. Chivu memutuskan pensiun di Inter tepat saat dirinya menjalin kesepakatan pemutusan kontrak dengan Inter pada tahun 2014.

Inter pantas menghormatinya sebagai pahlawan, seorang pemimpin sejati yang mengorbankan nyawanya untuk tim yang dia bela.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •