Opini Spesial

Darurat! Sepak Bola Indonesia Membutuhkan Sosok Dukun!

Kalah 0-1 dari Bahrain pada gelaran Anniversary Cup Jum’at (27/4/2018) lalu, nampaknya PSSI harus segera menyadari bahwa sudah saatnya timnas membutuhkan kehadiran sosok Dukun. Atau dalam bahasa yang disamarkan agar terkesan tidak menyakiti konsep berfikir akademis modern, sebut saja orang pintar.

Ya, orang pintar adalah sama dengan orang pintar. Masih kurang jelas? Orang pintar adalah orang yang terampil dan bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang selain dia, misalnya dalam mencari solusi yang benar dan tepat. Sepak bola Indonesia sudah sangat jelas sedang membutuhkan solusi, atau sebuah jalan keluar dari keterpurukan dan rasa malu yang bertubi-tubi. Tidak usah gengsi, kekalahan di kandang sendiri apalagi pada sebuah kompetisi yang diadakan oleh dirinya sendiri, untuk merayakan ulang tahunnya sendiri pula. Hal ini jelas merupakan bentuk rasa malu yang tergolong hakiki, bukan kepalang, bukan main!

Memang, ada banyak variabel yang menjadi penyebab kalahnya sebuah tim sepak bola dalam suatu pertandingan. Bisa berupa permainan yang buruk, dicurangi oleh pihak tertentu, kondisi mental yang kurang prima, ataupun juga nasib sial. Nah, dua variabel terakhir inilah yang yang paling krusial dan signifikan.

Pada saat menjalani pertandingan melawan Bahrain, kinerja para pemain timnas tidaklah buruk, bahkan luar biasa. Apalagi, sangat jelas bahwa wasit tidak menunjukkan gejala sedang dalam kondisi “drama”. Banyak peluang emas yang seharusnya bisa menjadi gol. Terdapat indikasi ketidak mampuan menjaga ketenangan batin saat mengeksekusi peluang mencetak gol. Ini sudah pasti perkara mental. Ditambah lagi, terdapat kejadian-kejadian misterius yang menyebabkan bola tak juga bersarang ke gawang lawan. Lagi, ini jelas faktor nasib buruk.

Baiklah, kita terlanjur menekuni bagaimana orang Eropa membangun kebuadayaan sepak bolanya dengan metodologi ilmiah. Ataupun Brazil yang menjadikan sepak bola menjadi syariat kehidupannya sehari-hari. Dengan sengaja kita meniru cara mereka, padahal sangat pasti bahwa kita bukanlah mereka. Kita adalah diri kita sendiri, bagian dari warga Asia yang telah di-Timur-kan. Bangsa kita punya pandangannya sendiri mengenai metodologi ilmiah, apalagi soal sepak bola.

Jangan salah, orang Eropa juga telah menerapkan praktik perdukunan dalam membangun sepak bolanya, begitupun Brazil. Praktik perdukunan yang mereka lakukan adalah dengan cara menekuni sepak bola sampai ke akar-akarnya, bahkan terdapat jurusan manajemen klub sepak bola di beberapa universitas di London Inggris, hal ini jelas dalam rangka mencetak dukun-dukun sakti untuk memberikan rasa aman dalam bermain sepak bola. Dan rasa aman adalah hal yang sangat vital dalam menjaga kondisi mental dan menghalau gangguan batin. Rasa aman adalah garda terdepan dalam proses tercapainya nasib bbaik.

 

 

Baca Juga:

10 Pesepakbola Muslim Termahal