Review

Derby Musim Ini Milik Inter Milan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tidak ada derby yang sebesar Derby Milano. Gairah, gengsi, dan rivalitas membalut dari masa ke masa. Terlalu banyak alasan keras mengapa menyebut derby ini adalah yang terbesar seantero kolong langit adalah bukan bualan. Silakan sebut acak faktornya, Anda pasti akan paham. Tim sekota, sekaligus serumah, mana yang memiliki persaingan setara di kelas atas?

Dengan 200 negara memasang mata serentak dan bisingnya stadion yang penuh sesak dengan 78.000 suporter, tekanan besar menjalari kedua kubu. Siapapun yang menganggap duel ini tidak penting, pasti dia sedang bergurau, atau setidaknya jika ia adalah milanisti atau interisti, pasti sedang melempar perang urat saraf. Bahkan meskipun hasil dari duel ini tidak akan membuat kedua tim terlempar dari zona Liga Champions, laga ini sudah pasti akan berjalan panas, sebab setelah beberapa musim selalu berjauhan di tabel klasemen, akhirnya pada musim ini kedua tim akan memulai duel dengan berada di posisi yang seharusnya. Saling menguntit di zona liga champions dengan selisih 1 poin jelas menjadi garansi duel ini akan panas. Tidak hanya soal gengsi memenangi derby seperti biasanya.

Meski hanya terpaut 1 poin, kedua tim membawa bekal yang berbeda. Milan sedang dibalut rasa percaya diri tinggi semenjak memulai awal tahun. Kedatangan Paqueta dan Piatek memberi dampak instan dengan semakin rajinnya tim memperoleh kemenangan. Ditambah dengan membaiknya performa Donnarumma dan semakin tebalnya kharisma Romagnoli di jantung pertahanan membuat Milan tidak lagi menjadi tim dermawan, bahkan justru menjadi tim paling irit kebobolan di Serie A dan Eropa pada medio paruh kedua. Ini jelas modal yang berharga disamping pulihnya Biglia yang di awal musim menjadi jenderal lapangan tengah dan kini siap bergantian dengan Bakayoko yang bangkit dari “kubur”. Sebaliknya, Inter seperti biasa harus mengalami kutukan Spaletti, ngebut di awal musim namun seperti kehabisan bensin di paruh kedua. Sempat mencicipi kembali nikmatnya Liga Champions, kemudian harus turun kasta ke liga europa, dan terkini harus tersingkir secara menyakitkan oleh Frankfurt. Belum lagi dengan absennya Nainggolan dan belum kelarnya drama Mauro Icardi yang membuatnya harus dirumahkan.

Babak pertama melaju dengan ritme yang tidak biasa. Cepat. Setidaknya jika dibandingkan dengan laga di pertemuan pertama. Adalah gol dari Mattia Vecino di menit prematur yang membuat kedua tim bermain terbuka meski dengan karakternya masing masing. Milan tetap dengan pola yang sama, build up pelan dari lini belakang untuk kemudian mengalirkan serangan dari kedua sisi sayap. Inter merespon dengan marking ketat dan mobilitas lini tengah yang cair. Milan boleh saja mendominasi penguasaan bola, namun Inter lebih mampu mengkreasi peluang berbahaya. Transisi dari bertahan ke menyerang inter jelas lebih matang. Dari situasi serangan balik ini membuat lini belakang Milan harus bekerja ekstra menghadapi 26 serangan berbahaya berbanding 21 yang bisa Milan berikan. Babak pertama adalah milik Inter.

Babak kedua bahkan melaju dengan tempo yang lebih cepat. Dejavu terjadi. Gol cepat di menit ke 5 dari Stefan de Vrij mengangkat Inter semakin di atas angin. Kedua gol ini sekaligus memberitahu sesuatu tentang Romagnoli, jika kau tidak bisa melewatinya maka dahului saja langkahnya. Romagnoli memang kokoh, tapi dia bukan tipe energik seperti Skriniar. Namun kali ini, Milan merespon melalui Bakayoko dengan mencopy gol de Vrij sebelumnya. Laga berjalan lebih hidup. Gatusso memasukkan Cutrone untuk menambah daya gedor dan bermain dengan resiko menyisakan 3 bek. Inter tetap dengan pakem yang sama dan berjalan seperti seharusnya. Dan benar saja, penalti matang Lautaro Martinez hampir saja membunuh laga. Lagi- lagi lewat kontribusi Politano yang bermain licin sejak awal laga. Hakan Calhanoglu sejak sebelum laga mewanti-wanti, bahwa Politano adalah pemain tersulit untuk dihadapi, dan demikianlah yang terjadi.

Kepalang tanggung, Gatusso memilih bertaruh habis-habisan. Conti dimasukan untuk membantu serangan di sisi Suso dalam kondisi yang hampir putus asa. Di sisi lain, Inter memasukkan pemain pemain pengganti bertipikal sama yang lebih pada menyegarkan tenaga dibanding mengubah strategi. Namun gol Musacchio memanfaatkan kemelut di muka gawang mengembalikan temperatur panas laga ini yang hampir saja menguap. Jual beli serangan lebih gencar terjadi. Kedua tim bermain terbuka dan melupakan kehati-hatian yang meskipun hanya sedikit namun masih ada di babak pertama. Laga berjalan keras. Milan menggebu, Inter semakin berbahaya dengan serangan baliknya. Drama semakin lengkap dengan pembatalan kartu merah Andrea Conti di penghujung laga yang nyaris membuat milanisti punya  kambing hitam. Spaletti merespon berlebihan sehingga harus meninggalkan lapangan lebih awal, entah karena emosi atau dia bosan menunggu kemenangan Inter yang baginya sudah pasti terjadi. Derby kali ini seakan meluapkan segala emosi yang tertabung di pertemuan seebelumnya kemudian ditumpahkan sekaligus. Setelah beberapa momen nyaris dari peluang Castillejo dan penyelamatan gemilang D’Ambrosio, Inter pulang dengan pesta kemenangan untuk sekaligus membuat milan menjadi pesakitan untuk yang kedua kalinya di musim ini. Milan memang boleh berjalan keluar dengan kepala tegak karena permainan yang telah ditampilkan, namunnter adalah pemilik mutlak kedua derby di musim ini. Tentu saja karena kematangannya.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •