Berita pilihan Spesial

Douglas Maicon, Sebuah Era yang Sulit Dilupakan dan Diulang

Tinggi, kokoh, kuat, cepat dan suka menggiring bola adalah sosok yang cukup langka bagi seorang pemain bek sayap. Sangat ofensif dan seimbang dalam bertahan, pergerakannya yang mematikan ketika menusuk ke dalam kotak pinalti lawan sering berujung gol. Tidak jarang, kekuatan kakinya membuat si kulit bundar meluncur deras merobek jala lawan. Dia adalah Maicon Douglas Sisinando.

Maicon muda mengawali karinyan di Cruzeiro pada tahun 2001. Tiga musim cukup membuat para pemandu bakat sepakat Maicon harus dibawa ke Eropa. AS Monaco adalah pelabuhan pertamanya di Eropa. Selang dua tahun berselang, Inter Milan datang dengan mahar 5 juta pounds. Selama di AS Monaco, Maicon sukses mencetak 5 gol dari 55 pertandingan.

Di sinilah Maicon akan mendapatkan segalanyan dalam karirnya. Maicon langsung menunjukkan bahwa dirinya adalah bek kanan terbaik dunia pada masa itu. Kapten Inter Milan, Javier Zanetti pun harus rela tergeser dari posisinya demi memberikan potensi besar yang ada dalam diri Maicon.

Selama dirinya mengawal sisi kanan pertahanan Inter, Inter Milan menjadi jauh lebih berbahaya dibanding sebelumnya. Sulit ditembus tetapi justru sangat membahayakan gawang lawab jika Maicon sudah menari-menari di lapangan.

Di era Maicon, Inter Milan juga berada masa kejayaannya. Tidak bisa dipungkiri, peran Maicon terhadap Inter Milan sangatlah signifikan. Pergerakannya yang sangat ofensif begitu membuat Inter tampil sangat ganas di mata lawan-lawannya.

Gol-gol indah tidak jarang lahir dari kaki Maicon. Para pemain depan Inter juga sangat dimanjakan dengan aksi Maicon yang aktif di kotak penalti lawan. Ketika meraih treble winner di tahun 2010, Maicon adalah salah satu aktor kunci kesuksesan Inter Milan tersebut. Gianluigi Buffon, Victor Valdes, serta kiper-kiper dari AC Milan dan tim-tim Serie A lainnya pernah merasakan keganasan aksi ofensif dan tendangan keras Maicon.

Setelah merasa semuanya telah ia dapatkan bersama Inter Milan, di tahun 2012 dirinya memutuskan hijrah ke Manchester City dan bertemu dengan Roberto Mancini pelatih terdahulunya di Inter untuk mencari tantangan baru. Sayang, karir Maicon justru dengan drastis meredup ketika bermain di Liga Inggris. Maicon hanya sempat bermain 9 kali karena dirinya sibuk dilanda badai cedera. Semusim berselang, Maicon memutuskan kembali ke Serie A dan bergabung bersama AS Roma. Tubuhnya yang mulai menua tetap bisa memberikan kontribusi positif untuk AS Roma. Bersama AS Roma, Maicon sukses mencetak 4 gol dari 59 kali penampilan.

Kini, Maicon sudah menjalani masa-masa di penghujung karirnya. Terakhir, dirinya membela Avai di Liga Brasil. Bersama Inter Milan dirinya sukses mengantongi 16 gol dari 177 penampilan. Selama karirnya, Maicon sukses menyumbang 33 gol dan 58 Assist dari 423 penampilan.

 

Di timnas Brazil pun, posisi bek kanan selaluidentik dengan namanya medio 2003 sampai 2010. Gol indahnya melawan Korea Utara di Piala Dunia 2010 menjadi gol indah sepanjang sejarah.

Sejarah akan mencatat sebagai bek kanan terbaik yang pernah ada. Bagi Inter Milan, Maicon adalah era yang akan sulit dilupakan. Sejauh ini, Inter Milan masih kesulitan menemukan sosok yang mirip dengan Dauglas Maicon Sisinando.