Opini pilihan Spesial

Hikayat Kebesaran Hati Timnas Israel (Bagian 1)

Sebelumnya, mohon jangan buru-buru menyimpulkan bahwa tulisan ini bermaksud untuk menyinggung perihal agama, etnis, maupun hal-hal sensitif lainnya mengenai “Israel”. Meskipun, pada akhirnya pangkal permasalahan memang dipengaruhi oleh hal-hal tersebut, dan ketika anda membuka laman tulisan ini maka jelas pokok bahasan yang paling utama adalah sepak bola. Cabang olah raga yang paling sering dijadikan kegemaran oleh hampir seluruh manusia di planet ini.

Pada dasarnya sepak bola adalah sebuah permainan yang mana terdapat aturan-aturan khusus untuk memainkannya. Maka, bagi setiap orang yang sedang memainkannya jelas harus memposisikan dirinya sebagai seorang pemain –yang mana tugas seorang pemain adalah bermain- tidak bisa tidak. Begitu juga dengan tim nasional sepak bola Israel, yang mana tugas utama dan paling dasar yang harus mereka lakukan adalah bermain sepak bola.

Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa tim yang kini menjadi bagian dari UEFA (konfederasi sepak bola Eropa) ini sebenarnya pernah menjadi bagian dari konfederasi sepak bola Oceania. Suatu hal yang sulit untuk diterima akal sehat, mengingat lokasi geografisnya yang berada di Timur Tengah. Bahkan tim biru- putih pernah menjadi kampiun Asia pada gelaran piala Asia tahun 1964. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu timnas Israel? Bukankah aneh jika sebuah tim yang pernah menjadi salah satu kekuatan besar sepak bola Asia tapi kini malah bergabung di zona Eropa yang dihuni oleh para “raksasa” sepak bola dunia. Bahkan sejak hijrahnya tim ini ke zona Eropa, tak sekalipun mereka merasakan atmosfir putaran final piala Eropa apalagi piala Dunia.

Sejarah mencatat bahwa pengembaraan timnas Israel dipicu oleh konflik atara negara Israel-dan beberapa negara di Jazirah Arab yang mayoritas rakyatnya beragama muslim. Hal ini berdampak pada sejumlah penolakan tim-tim “muslim” lainnya untuk bertanding melawan timnas Israel. Sehingga pada akhirnya federasi sepak bola Israel memilih untuk mengundurkan diri dari konfederasi sepak bola Asia. Entah apa yang menjadi pertimbangan federasi sepak bola Israel saat itu. Bisa jadi setidaknya terdapat dua kemungkinan,yaitu menyelamatkan para pemainnya dari cemooh warga sepak bola Asia khususnya yang berada di Timur Tengah, atau bisa juga demi menjaga perdamaian sepak bola Asia supaya berdampak pada kemajuan sepak bola Asia itu sendiri. Meski keputusan tersebut menyebabkan timnas Israel harus menempuh jalur yang tak lazim dan sangat berat demi untuk tetap bermain sepak bola. Mereka harus rela terusir dari Asia, benua dimana negara Israel berada.

Jika dihubungkan dengan sejarah bangsa Israel, tak heran jika terusirnya mereka dari zona Asia selaras dengan kisah perjalanan panjang bangsa Israel yang nyaris selalu terusir dari tempat mereka berada. Akan tetapi, apa yang menjadi keputusan federasi sepak bola Israel saat itu sangat menarik untuk dibahas, ditelaah, dijadikan inspirasi, diteladani, bahkan diacungi jempol plus standing applause . Betapa tidak, sikap dan pilihan yang diambil oleh federasi sepak bola Israel bukan hanya bertujuan untuk “cari aman” semata (mungkin), namun tarafnya sudah mencapai kebesaran hati khalayak sepak bola Israel. Jangan dulu berpikiran bahwa pemaparan yang disebutkan diatas adalah sesuatu yang mengada-ada ataupun melebih-lebihkan. Ini fakta Bung!

Baca Juga:

10 Pesepakbola Muslim Termahal