Berita

Liverpool Bukan Barcelona dan Anfield Bukan Olimpico

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Anfield Stadium tak pernah ramah kepada tim tamu, dan korban terakhir adalah AS Roma. Liverpool menggila dengan menggulung tim ibu kota Italia itu dengan gelontoran 5 gol dalam babak semi final Liga Champion leg pertama yang berlangsung tadi malam. Meskipun begitu, AS Roma masih memiliki asa karena mampu membalasnya dengan 2 gol. Dua gol tandang yang akan menjadi modal berharga untuk leg ke-2 nanti.

AS Roma kembali turun dengan formasi yang menurut mereka mampu memberikan mukjizat, yakni formasi 3 bek. Tadi malam Di Fransesco memasang formasi 3-4-2-1. Ini hanya sedikit modifikasi dari formasi 3 bek saat mereka secara mengejutkan menyingkirkan Barcelona di babak perempatfinal lalu. Akan tetapi Liverpool bukan Barcelona dan Olimpico bukan Anfield.

Formasi 3 bek itu tak manjur kali ini justru berakhir petaka. Tak sampai 70 menit pertandingan berjalan, gawang Allison sudah dibobol 5 kali!.

Di Fransesco seakan tak belajar dari pertandingan sebelumnya bahwa Liverpool sangat kuat dalam serangan balik. Tim sekelas Juara Liga Primer Inggris pun, Manchester City dibuat tak berdaya dengan racikan strategi serangan balik Jurgen Klopp.

Ketidakberdayaan Man City musim ini menghadapi Liverpool dengan catatan 3 kali kekalahan dari 4 pertandingan seakan mengindikasikan bahwa tim dengan possesion football serasa menjadi makanan bagi Liverpool, dan itu justru yang dilakukan AS Roma tadi malam.

AS Roma turun dengan gaya permainan menyerang dan unggul dalam penguasaan bola. AS Roma unggul dengan 51% penguasaan bola.

Strategi Liverpool secara umum hampir sama, yaitu menunggu lawan membuat kesalahan, dan setelah bola berhasil dikuasai, secepatnya bola itu diberikan kepada trio mereka, firmansah (Firminho, Mane, Salah). Selanjutnya tinggal menunggu gol terjadi, dan semalam setidaknya ada 3 gol yang berhasil disarangkan ke gawang Roma dengan strategi seperti ini.

Mungkin bisa sedikit dimengerti bahwa yang menjadi pertimbangan adalah kekalahan AS Roma saat melawan Barcelona di Camp Nou. Waktu itu AS Roma turun dengan formasi 4 bek dan kebobolan 3 kali. Kemudian Di Fransesco secara berani mengambil risiko melakukan percobaan yaitu dengan menurunkan formasi 3 bek dan itu manjur. Akan tetapi kali ini pilihan strategi Di Fransesco salah, sekali lagi Liverpool bukan Barcelona dan Anfield bukan Olimpico.

Lagi-lagi mungkin pertimbangan Di Fransesco adalah performa terakhir AS Roma di Liga Champion yang memakai formasi 3 bek. Jika argumennya itu maka pantas disalahkan, setidaknya karena dua hal yakni pertama, waktu itu Roma main di kandang, kedua, formasi 3 bek itu baru dipakai 1 kali di Liga Champion (waktu melawan Barcelona). Jadi seharusnya argumen AS Roma akan tampil bagus dengan formasi 3 bek tidak kuat, faktanya sebagian besar pertandingan dilalui AS Roma dengan 4 bek dan itu menghasilkan kinerja yang memuaskan. Sekali lagi Di Fransesco salah hitung karena Liverpool bukan AS Roma dan Anfield bukan Olimpico.

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •