Opini pilihan

Mempekerjakan Ancelotti, Indikasi Napoli Sudah Tobat?

Penunjukkan Ancelotti sebagai pelatih baru Napoli sebenarnya tidak begitu mengejutkan. Maurizio Sarri sudah mengindikasikan akan pergi dan sudah dihubungkan dengan sejumlah klub seprti Chelsea dan Zenit St. Petersburg jauh hari sebelumnya. Sementara Ancelotti yang menganggur selama hampir setahun dan sempat digosipkan akan menukangi timnas Italia, akan tetapi gosip itu terjawab setelah FIGC resmi menunjuk Roberto Mancini. Maka berita Ancelotti menukangi Napoli hanya tinggal menunggu hari saja.

Ada satu hal menarik dari penunjukkan Ancelotti sebagai pelatih Napoli kali ini, yakni soal filosofi sepak bola. Ada dua filosofi utama dalam dunia sepak bola modern saat ini yakni filosofi bertahan yang cenderung pragmatis dan filosofi menyerang yang cenderung idealis. Filosofi bertahan-pragmatis secara kasar mengatakan terserah mau bermain dengan cara apa yang penting menang. Sementara filosofi menyerang-idealis memiliki aturan hasil harus diraih dengan cara bermain yang cantik, atraktif dan menghibur.

Setiap pelatih harus memutuskan dia berada di barisan mana apakah pragmatis atau idealis. Nah, Ancelotti berada di barisan filosofi bertahan-pragmatis, sementara Sarri dan pelatih pendahulunya (Rafael Benitez) di Napoli berada di barisan filosofi menyerang-idealis. Selama sukses menukangi Milan, Ancelotti fokus pada rapatnya lini pertahanan dan kerap bersilisih paham dengan presiden klub waktu itu Silvio Berlusconi. Berlusconi lebih suka melihat Milan tampil dengan 2 striker akan tetapi Ancelotti lebih suka bermain dengan 1 striker dengan 2 gelandang serang.

Maka dari itu memperkerjakan Ancelotti serasa membuat “GBHN” baru bagi Napoli yakni dari sepak bola menyerang-idealis yang atraktif ke sepak bola bertahan-pragmatis yang cenderung membosankan. Haluan sepak bola Napoli berubah total, bahkan berbalik 180 derajat. Dengan kata lain Napoli berpindah filosofi sepak bola dari filosofi idealis ke pragmatis.

Pertanyaannya kemudian kenapa Napoli harus sampai mempekerjakan Ancelotti yang cenderung pragmatis, sangat berbeda dengan pelatih Napoli sebelumnya yang gemar mempertontonkan sepak bola atraktif bagi Napoli mulai dari Benitez, dan Sarri.

Jawabannya tentu adalah prestasi dan gelar juara. Meski sukses mempertontonkan permainan yang disukai banyak orang akan tetapi baik Benitez dan Sarri gagal mempersembahkan gelar bergengsi bagi Napoli. Alasan ini memiliki argumentasi kuat menyusul pernyataan Ancelotti di halaman website pribadinya yang menyebut bahwa dia dipekerjakan untuk meraih kembali gelar yang telah dipuasai selama 28 tahun oleh Napoli, tak lain gelar yang dimaksud adalah Scudetto Serie A.

Dalam 7 tahun terakhir sepak bola atraktif Napoli tak mampu satu kalipun mencuri gelar Scudetto yang dikuasai Juventus. Sebagai rival, Juve tak hanya sebagai opposan gelar juara tapi opposan dalam filosofi permainan juga. Hal ini karena dibanding Napoli, Juventus lebih pragmatis dalam permainan dan itu sukses memberi mereka gelar Scudetto. Maka penunjukkan Ancelotti yang pragmatis serasa mengindikasikan bahwa Napoli sudah insaf menyerang dan ingin bermain pragmatis saja demi gelar Scudetto yang telah mereka dambakan selama 28 tahun terakhir.

Kita tunggu apakah keinsafan Napoli ini mampu membuahkan hasil Scudetto musim depan. Jika ingin Scudetto Napoli tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk bermain menyerang, Napoli harus bertobat dan kembali ke resep sepak bola Italia sendiri. Seperti kita ketahui bahwa tanah Italia tidak ramah terhadap sepak bola menyerang ala Napoli belakangan ini. Berbeda cerita dengan sepak bola Spanyol yang memberikan panggung megah bagi sepak atraktif yang diperankan dengan apik baik oleh Barcelona dan Real Madrid. Keduanya mampu mengkonversikan permainan menghiburnya menjadi gelar-gelar yang prestisius.

Baca Juga:

10 Pesepakbola Muslim Termahal