Opini

Seharusnya Italia Mencontoh Indonesia

by pandanbara

Ketidak hadiran timnas sepak bola Italia pada gelaran piala dunia tahun depan di Rusia sebaiknya tidak perlu diherani secara berlebihan. Bahkan ada salah satu portal berita ternama yang membuka voting /pemungutan suara tentang penyebab gagalnya Gli Azzurri. Entah apa yang mereka cari. Namun, jika yang membuka voting adalah federasi sepak bola Italia (FIGC), maka ini sudah keterlaluan. Bagaimana bisa negara yang menjadi salah satu barometer kekuatan besar sepak bola di planet  ini kehilangan kemampuan untuk mawas diri? Semoga saja tidak!

Dari sekian banyak asumsi yang bergentayangan baik di dunia maya maupun di dunia nyata, setidaknya terdapat 3 poin utama yang diduga menjadi biang keladi atas kegagalan Buffon dan kawan-kawan. Yaitu; kepelatihan yang buruk, terlalu banyak pemain yang berusia diatas 25 tahun alias “pemain tua”, dan kemungkinan bahwa Italia sedang bernasib buruk karena harus menghadapi tim-tim tangguh semisal Spanyol dan Swedia. Ternyata nikmat juga menduga-duga. Bebas ber-opini (baca: menuduh/ mengkambing hitamkan). Sayangnya tidak terdapat opsi “semua kemungkinan diatas benar”.

Sebagai tim yang konsisten memelihara mitos –seperti gaya permainan dan khasiat pemain tua-, Italia telah membuktikan bahwa regenerasi pemain adalah hal yang mutlak harus dilakukan di abad 21 ini. Nasib yang dinamis –terkadang berhasil, terkadang gagal-,  juga diperlukan untuk berlatih mengasah kemampuan mawas diri. Apalagi, sebagai tim yang nyaris selalu lolos ke putaran final piala dunia, Italia selalu nampak merasa  yakin bahwa “gagal lolos hanyalah mitos”. Sehingga setelah kegagalan itu datang, Italia benar-benar telah menjadi mitos pada gelaran pila dunia Rusia tahun depan.

Seharusnya FIGC studi banding kepada timnas sepak bola Indonesia. Sebagai tim yang sering gonta-ganti pelatih dan pemain asing, timnas Indonesia tidak pernah tampak merasa malu karena gagal lolos ke piala dunia. Lagipula, terdapat indikasi bahwa tujuan utama timnas Indonesia adalah asalkan menang melawan  timnas sepak bola Malaysia. Sangat sederhana dan tidak neka-neka (anti ribet). Jika Indonesia kedapatan gagal dalam sebuah kompetisi antar negara, maka kesimpulannya jelas; pelatih kurang toktjer, salah taktik, pemain kurang berkarakter. Sehingga perlu diberi stimulan pemain dari negeri “entah” agar memberikan contoh cara bermain bola yang benar dan “sip” kepada para pemain lainnya. Agak mirip dengan yang dilakukan Walisanga pada abad 15 di tanah Jawa. Jika terbukti masih tidak berhasil, maka yang menjadi kambing hitam adalah karena minimnya kesempatan begi pemain lokal untuk berlaga membela timnas. Menyenangkan bukan?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *